Sejak bulan April, media massa kita dipenuhi dengan berita-berita seputar Corona Virus Disease 2019 (COVID-19). Tidak bisa dimungkiri bahwa kini masyarakat dunia tengah menghadapi ancaman besar dari virus tersebut. Berbagai antisipasi pun dilakukan, dari mulai cuci tangan, penggunaan hand sanitizer, penyemprotan desinfektan, penggunaan masker, hingga Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).
Isu terkait lingkungan pun secara tidak langsung ikut terangkat di tengah pemberitaan di masyarakat. Berdasarkan hasil monitoring, pemberitaan dengan kata kunci Pengelolaan Limbah dan sampah, serta emisi Gas Rumah Kaca (GRK) mendominasi beberapa pekan terakhir. Apakah hal tersebut merupakan bukti bahwa masyarakat mulai peduli dengan masalah pengelolaan limbah dan emisi GRK?
Limbah plastik dan medis tenyata adalah dua isu yang paling sering dibahas di dalam pemberitaan media saat ini. Direktur Pengelolaan Sampah Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Dr.Ir. Novrizal Tahar pernah menyatakan dalam salah satu pidatonya bahwa kepedulian masyarakat akan pengelolaan limbah plastik masih sangat rendah. Masyarakat peduli sampah, namun minim aksi.
Pembangunan Rendah Karbon (PRK) yang merupakan upaya pemerintah dalam menghadapi dampak ekstrim perubahan iklim, memang tidak bisa terlaksana dengan baik tanpa adanya kerjasama dari berbagai pihak. Pengelolaan limbah yang dimulai dari lingkungan terkecil (rumah tangga) adalah salah satu bentuk dari aksi rendah karbon yang secara tidak langsung turut mendukung upaya pemerintah dalam keberhasilan Pembangunan Rendah Karbon. Bagaimana usaha masyarakat untuk turut andil?
BERSAMA MENGURANGI LIMBAH PLASTIK
Beberapa tahun belakangan, gaya hidup minim plastik mulai berkembang di masyarakat. Hal tersebut diawali dengan banyaknya berita-berita yang viral di media sosial tentang bahaya plastik dan dampaknya bagi alam semesta.
Foto bangkai hewan-hewan laut dengan plastik di dalam perut mereka, membuat banyak orang mulai berpikir akan masalah besar yang sedang dihadapi bumi.
Supermarket bahkan sudah mulai menerapkan aturan baru tentang penggunaan kantong plastik. Sebagian dibuat berbayar, sebagian lagi betul-betul tidak lagi menggunakan kantong plastik. Sehingga konsumen mau tidak mau harus membawa tas belanja sendiri atau membeli tas belanja. Kebijakan-kebijakan yang berhubungan dengan pengelolaan limbah dan penggunaan emisi di beberapa provinsi pun layak diapresiasi. Seperti di antaranya pembatasan kantong plastik sekali pakai, larangan penggunaan sedotan plastik dan styrofoam, atau pengunaan kendaraan berbahan bakar listrik.
MENGELOLA LIMBAH ORGANIK DAN ANORGANIK
Di masa pandemi dan PSBB saat ini, mengelola limbah organik dan anorganik di lingkungan tempat tinggal masing-masing menjadi kegiatan yang cukup menarik di tengah masyarakat. Sampah anorganik, termasuk plastik di antaranya, merupakan non-biodegradable yang tidak ramah bagi ekosistem. Sehingga dibutuhkan beberapa upaya untuk mengelola sampah anorganik tersebut, misalnya dengan:
1. Stop penggunaan plastik sekali pakai,
2. Mengurangi konsumsi makanan atau minuman kemasan plastik,
3. Tidak menggunakan sedotan.
4. Hindari penggunaan kantong plastik saat berbelanja
5. Daur ulang sampah anorganikmu menjadi barang-barang bermanfaat.
Lalu bagaimana dengan sampah organik? Berikut langkah-langkah menjadikan sampah organik menjadi pupuk kompos:
1. Pilah sampah organik yang berasal dari rumah tangga. Biasakan untuk memiliki 2 tempat sampah. 1 untuk organik, 1 untuk non-organik.
2. Siapkan dekomposer atau starter EM4 yang bisa dibeli di toko pertanian (jika memungkinkan)
3. Campur dekomposer dan sampah organik ke dalam wadah yang disiapkan secara rutin, dilapisi media tanah atau serbuk gergaji (jika tersedia) dan ditutup rapat.
Pengetahuan merupakan hal yang penting bagi masyarakat. Dengan mencari informasi dari sumber terpercaya, tentunya akan memberikan dampak yang baik untuk ke depannya. Oleh karena itu, ayo! kita bersama-sama membantu upaya pemerintah dalam Pembangunan Rendah Karbon melalui aksi rendah karbon sederhana, yaitu dengan mulai mengelola sampah di lingkungan tempat tinggal kita masing-masing.
Oleh: DIAN NURANINDYA