Bahasa IndonesiaEnglish
Bahasa IndonesiaEnglish
Penerapan Ekonomi Hijau

Sektor Limbah

Pembangunan rendah karbon di sektor limbah mencakup transformasi pengelolaan limbah dari hulu ke hilir dan pendekatan ekonomi sirkular untuk menurunkan emisi gas rumah kaca serta mengoptimalkan pemulihan sumber daya secara berkelanjutan.

Informasi Sektor

Secara global, sektor limbah menyumbang ±5% emisi GRK dunia, dengan emisi metana (CH4) dari TPA sebagai penyumbang terbesar. Gas metana memiliki potensi pemanasan global 28 kali lebih kuat dibandingkan CO₂ dalam 100 tahun,  menjadikan pengurangan emisi sektor limbah sebagai prioritas mitigasi iklim berbiaya rendah namun berdampak tinggi. Komitmen Global Methane Pledge di COP26 (2021) yang diikuti Indonesia, menargetkan pengurangan emisi metana global sebesar 30% pada 2030 dari level 2020.

Intervensi utama diarahkan di kawasan perkotaan (kota metropolitan, kota besar, dan kota sedang), dengan prioritas pada:

  • Pengembangan TPS3R dan TPST skala kawasan
  • Pembangunan IPAL komunal dan SPALD-T di permukiman padat penduduk
  • Pengembangan fasilitas RDF dan Waste-to-Energy di 33 kota prioritas (Perpres 109/2025)
  • Rehabilitasi TPA open dumping menjadi sanitary/controlled landfill

Beberapa Mitra Pembangunan untuk proyek persampahan:

  • World Bank
    Pada Desember 2025, World Bank menyetujui proyek Local Service Delivery Improvement Project (LSDP) senilai USD 350 juta untuk memperkuat layanan pengelolaan limbah padat bagi lebih dari 15 juta warga Indonesia, mencakup 30 pemerintah daerah.
  • GIZ
    Proyek Emissions Reduction in Cities through Improved Waste Management (ERiC-DKTI) untuk penguatan reformasi pengelolaan sampah di perkotaan.
  • UNDP/GCF
    Dukungan penyusunan NDC dan National Adaptation Plan, termasuk komponen sektor limbah.

 

Arah Kebijakan

Dalam RPJMN 2025–2029, sektor pengelolaan limbah menjadi salah satu pendekatan multi-sektor yang ditetapkan pemerintah yang dijabarkan dalam tiga Program Prioritas (PP) yang saling melengkapi, yaitu PP 15 Ekosistem Ekonomi Sirkular, PP 18 Reformasi Pengelolaan Sampah Terintegrasi dari Hulu ke Hilir, dan PP 19 Pembangunan Rendah Karbon.

Dalam konteks pembangunan rendah karbon, arah kebijakan sektor ini berfokus pada Kegiatan Prioritas (KP) 05: Penguatan Aksi Penurunan Emisi GRK di Sektor Pengelolaan Limbah. Pada level RO, target kebijakan sektor pengelolaan limbah meliputi:
PPN 01—Pengurangan Emisi GRK Sektor Pengelolaan Sampah oleh Pemerintah Pusat

  • RO Bank Sampah Induk yang terbangun
  • RO Fasilitas pengelolaan sampah spesifik
  • RO Fasilitas pengelolaan sampah dengan prinsip ekonomi sirkular dan energy recovery

PPN 02—Pengurangan Emisi GRK Sektor Pengelolaan Limbah Cair Domestik oleh Pemerintah Pusat

  • RO Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL)

Target Kebijakan

Target Sektor

136.34 Juta Ton
Total Emisi Sektor Limbah (2023)
*Setara 10,02% Emisi Nasional
14.13 Juta Ton
Target Reduksi Emisi (2025)
*Target RPJMN KP 05
30 %
Target Reduksi Metana Global
*Global Methane Pledge 2030

Baseline

Sektor limbah merupakan salah satu dari 5 sektor yang diperhitungkan dalam inventarisasi GRK nasional Indonesia, dengan tahun referensi 2019 sebagai baseline SNDC yang mencatat total emisi nasional sebesar 1.145.037 Gg CO₂e dari seluruh sektor. Dalam kontribusi emisi sektoral, limbah padat perkotaan dan air limbah domestik menjadi sumber utama emisi GRK sektor ini, yang didominasi oleh gas metana (CH₄) dari proses anaerobik di TPA open dumping serta dinitrogen oksida (N₂O) dari pengomposan.

  • Dalam kerangka PP 19 Pembangunan Rendah Karbon, target reduksi emisi GRK sektor limbah ditetapkan sebesar 14,13 juta ton CO₂-Eq pada tahun 2025, yang diukur melalui indikator KP 05 (Reduksi Emisi GRK Sektor Limbah) oleh KLH/BPLH.
  • Dalam kerangka ENDC, Indonesia berkomitmen menurunkan emisi GRK sektor limbah sebesar 40 Mton CO₂eq dengan upaya domestik (CM1) dan 43,5 Mton CO₂eq dengan dukungan internasional (CM2) pada tahun 2030.
  • Dalam kerangka SNDC, untuk sektor limbah SNDC tidak memuat angka target reduksi per sektor secara eksplisit, namun menegaskan komitmen transformasi sektor melalui kebijakan Zero Waste Zero Emission yang tertuang dalam Kepmen LHK No. 842 Tahun 2024 sebagai salah satu regulasi kunci pendukung SNDC.

Capaian

Berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan tahun 2024, profil emisi GRK sektor limbah pada tahun 2023 sebesar 136,34 Juta ton CO2e dari total emisi GRK Nasional sebesar 1.360,35 Juta ton CO2e. Dengan kontribusi 10,02% terhadap emisi GRK Nasional, tren emisi GRK tahun 2023 mengalami kenaikan sebesar 4,72% dibandingkan tahun 2022 dan konsisten meningkat sejak tahun 2000.
Sementara itu, capaian pengurangan emisi GRK sektor limbah adalah 1,88 juta ton CO2e dengan peningkatan sebesar 184.298 ton CO2e dari tahun sebelumnya.

Rencana Kedepan

Periode 2025–2029 fokus pada penataan dan perluasan akses layanan pengelolaan limbah secara inklusif. Prioritas utamanya adalah pembangunan fasilitas pengelolaan limbah terpadu, perluasan layanan IPAL/IPLT, penerapan sistem pemilahan sampah dari sumber, serta penguatan prinsip ekonomi sirkular 9R dan ekodesain.

Periode 2030–2034 diarahkan pada pengembangan nilai manfaat limbah berbasis ekonomi sirkular. Fokusnya adalah perluasan fasilitas pengolahan limbah berbasis sirkular hingga seluruh provinsi, peningkatan efisiensi TPA terpadu, serta penguatan kolaborasi publik-swasta dalam pengelolaan limbah.

Periode 2035–2039 menyasar penguatan nilai tambah limbah melalui penerapan penuh kebijakan Extended Producer Responsibility (EPR), akselerasi Waste-to-Energy (WtE) dan sanitary landfill, serta pemberian insentif industri daur ulang limbah organik dan non-organik.

Periode 2040–2045 menjadi fase perwujudan sistem pengelolaan limbah terintegrasi berbasis zero waste dan teknologi rendah emisi.

Penerapan PRK

Update Terkini

Berita terkini mengenai topik pembangunan seputar pembangunan rendah karbon

Mitra Pembangunan

Alamat

Gedung Lippo Kuningan 15th Floor Jl. H.R. Rasuna Said Kav.B-12, Jakarta 12940

Kontak

©2023 Low Carbon Development Indonesia

to top