Bahasa IndonesiaEnglish
Bahasa IndonesiaEnglish
Penerapan Ekonomi Hijau

Forestry and Other Land Use (Kehutanan dan Penggunaan Lahan Lainnya)

Pendekatan pembangunan rendah karbon pada sektor kehutanan dan penggunaan lahan lainnya yang bertujuan menurunkan emisi sekaligus meningkatkan serapan karbon melalui perlindungan hutan, pengelolaan lahan berkelanjutan, dan pemulihan ekosistem.

Informasi Sektor

Sektor FOLU diposisikan sebagai sektor strategis dalam RPJPN 2025–2045 karena tidak hanya berkontribusi terhadap penurunan emisi gas rumah kaca, tetapi juga berperan sebagai nature-based solution yang menopang keberlanjutan lingkungan, perlindungan biodiversitas, serta ketahanan air dan ekosistem. Highlight pelaksanaan sektor ini mencakup pengendalian deforestasi dan degradasi hutan, rehabilitasi hutan dan lahan, restorasi gambut dan mangrove, penguatan perhutanan sosial, serta peningkatan tata kelola penggunaan lahan dan sistem data yang terintegrasi. Pelaksanaan intervensi sektor FOLU mencakup kawasan hutan, lahan gambut, wilayah mangrove (dalam kawasan hutan), serta area perhutanan sosial di berbagai daerah, dengan penekanan pada pentingnya sinergi pusat-daerah dan kolaborasi multipihak. Dari sisi pendanaan, penguatan sektor ini didukung melalui APBN, APBD, kemitraan pemerintah dan swasta, hibah, serta skema pembiayaan karbon dan non-karbon, dengan kebutuhan pendanaan mencapai sekitar Rp110,39 triliun untuk mendukung pencapaian target FOLU Net Sink.

Arah Kebijakan

Kebijakan Pembangunan Rendah Karbon (PRK) dalam RPJMN 2025–2029 menempatkan sektor FOLU sebagai bagian dari KP 02: Penurunan Emisi GRK Sektor Berbasis Lahan untuk mendukung penurunan emisi nasional dan pencapaian FOLU Net Sink 2030.

Pada level RO, target kebijakan sektor FOLU meliputi:
RO 01: Peningkatan cadangan karbon dengan rehabilitasi hutan dan lahan
RO 02: Restorasi dan pencegahan degradasi lahan gambut
RO 03: Pengendalian kebakaran hutan dan lahan

Target Kebijakan

Target Sektor

285.3 Juta Ton
Capaian Pengurangan/Serapan (2023)
*Penurunan Deforestasi & Karhutla
140 Juta Ton
Target Penyerapan Emisi (2030)
*Target FOLU Net Sink 2030
110.3 Triliun Rp
Kebutuhan Pendanaan Target
*Dukungan APBN, Swasta & Karbon

Baseline

Sektor FOLU masih menjadi salah satu sumber emisi utama dalam pembangunan nasional, dengan proyeksi emisi sekitar 714 juta ton CO2e pada 2030 yang berasal dari deforestasi dan degradasi hutan, kebakaran hutan dan lahan, serta dekomposisi gambut. Dalam kerangka pembangunan rendah karbon RPJPN 2025–2045, sektor ini diposisikan sebagai sektor kunci untuk menurunkan emisi sekaligus meningkatkan serapan karbon, dengan target mencapai FOLU Net Sink pada 2030 dan proyeksi penyerapan emisi sekitar 140 juta ton CO2e pada tahun 2030. Pada skenario ambisius pembangunan rendah karbon, tingkat emisi sektor FOLU diproyeksikan sebesar 566 Mton CO2e pada 2025 dan menurun menjadi 325 Mton CO2e pada 2029, kemudian terus menurun hingga pada 2045 sektor FOLU diproyeksikan berkontribusi pada penyerapan emisi sebesar 37 Mton CO2e. Dengan demikian, target kebijakan pembangunan rendah karbon sektor FOLU diarahkan untuk mempercepat transisi dari sektor pengemisi menjadi sektor penyerap karbon bersih yang menopang pencapaian Net Zero Emissions dan pembangunan berkelanjutan.

Capaian

Sektor FOLU telah menunjukkan kemajuan dalam mendukung pembangunan rendah karbon, dengan capaian pengurangan dan/atau serapan emisi sebesar 285.339.564 ton CO2e pada tahun 2023. Capaian ini terutama didorong oleh penurunan deforestasi, pengendalian kebakaran gambut, serta rehabilitasi hutan dan lahan.

Rencana Kedepan

Ke depan, periode 2025–2029 menjadi fase krusial untuk memperkuat fondasi implementasi pembangunan rendah karbon sektor FOLU agar target Just FOLU Net Sink 2030 dapat tercapai. Prioritas ke depan meliputi penguatan tata kelola pencegahan deforestasi dan degradasi, penguatan perhutanan sosial dan reformasi tenurial, restorasi gambut dan mangrove, pengembangan agroforestri, penguatan sistem data, pemantauan, evaluasi, dan pelaporan, serta pengembangan insentif, disinsentif, dan pembiayaan inovatif untuk sektor FOLU. Pada fase 2030–2034, kebijakan diarahkan pada akselerasi instrumen dan mekanisme pendukung, termasuk insentif, disinsentif, pembiayaan inovatif, dan penguatan sistem pemantauan, evaluasi, dan pelaporan. Selanjutnya pada fase 2035–2039 diarahkan pada ekspansi pertumbuhan ekonomi berbasis penyerapan karbon sektor FOLU, dan pada fase 2040–2045 diarahkan pada integrasi nilai ekonomi karbon sektor FOLU sebagai pijakan pertumbuhan ekonomi hijau pasca-2045.

Penerapan PRK

Update Terkini

Berita terkini mengenai topik pembangunan seputar pembangunan rendah karbon

Mitra Pembangunan

Alamat

Gedung Lippo Kuningan 15th Floor Jl. H.R. Rasuna Said Kav.B-12, Jakarta 12940

Kontak

©2023 Low Carbon Development Indonesia

to top